
Jadikan AI Sebagai Alat Bantu Bukan pengganti Kecerdasan, Komaruddin Hidayat Ingatkan Pers Tetap Cerdas dan Beretika
Embaranpos.id-Cendekiawan muslim dan akademisi, Prof. Komaruddin Hidayat, menegaskan bahwa pers memegang peranan vital dalam kehidupan masyarakat modern, layaknya udara dan air yang dikonsumsi setiap hari. Hal itu disampaikan dalam sebuah acara di Ballroom Hotel Golden Tulip Malang, Kamis (9/4/2026).
“Pers itu layaknya udara yang kita hirup dan air yang tiap hari kita minum. Informasi sekarang sudah menjadi konsumsi harian masyarakat. Begitu bangun tidur, yang pertama kali dipegang itu biasanya telepon genggam, bukan buku, bukan makanan,” ujar Komaruddin.
Ia mengingatkan, sebagaimana udara dan air yang kotor dapat merusak kesehatan fisik, informasi yang buruk dan menyesatkan dapat mengganggu kesehatan psikis dan emosi masyarakat.
“Ketika kualitas udara dan air itu kotor atau tercemar, maka akan mendatangkan penyakit bagi tubuh. Hal yang sama terjadi pada informasi. Kalau informasi itu kotor, penuh kebohongan dan provokasi, ia akan mengganggu emosi dan kesehatan jiwa kita,” tegasnya.
Komaruddin juga menyinggung dampak negatif gawai dan permainan digital terhadap anak. Menurutnya, beberapa negara sudah menerapkan pembatasan ketat setelah melihat dampak psikologis yang serius.
“Sekarang sudah ada negara-negara yang melarang atau membatasi keras penggunaan gawai tertentu untuk anak-anak, karena setelah dievaluasi, banyak terjadi kelainan dan hambatan psikologis akibat permainan gawai,” kata ketua Dewan Pers
Dalam pemaparannya, Komaruddin menegaskan bahwa tugas utama pers adalah melakukan edukasi kepada publik.
“Masyarakat dan bangsa itu bisa maju karena adanya edukasi yang disampaikan lewat media: lewat buku, media informasi, ceramah, dan lain-lain. Tanpa informasi yang mencerahkan, masyarakat tidak akan berkembang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peranan pers juga menyangkut fungsi kontrol sosial yang harus dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab.
“Dalam undang-undang, pers itu sering diibaratkan seperti petugas ronda. Kalau ada kebakaran, tugas Anda berteriak keras-keras supaya pemadam kebakaran datang. Artinya, kritik yang dilakukan pers harus tulus, konstruktif, dan objektif,” jelasnya.
Komaruddin mengingatkan bahaya berita bohong atau sensasi murahan. “Jangan sampai pers itu mengembuskan hoaks. Orang berbondong-bondong datang karena dikira ada kebakaran, padahal tidak ada apa-apa. Itu mengkhianati kepercayaan publik,” ucapnya.
Menurutnya, pers juga berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat. “Pers itu wakil pemerintah untuk menyampaikan prestasi kepada publik, tetapi sekaligus menyampaikan keluhan dan kritik masyarakat kepada pemerintah dengan cara yang profesional, edukatif, dan etis,” tambahnya.
Komaruddin menyoroti terpukulnya banyak media arus utama akibat perpindahan belanja iklan ke media sosial dan platform digital.
“Sekarang ini mengapa banyak media mainstream melakukan PHK? Karena pemasukan menurun. Dulu pemasukan utama dari iklan, sekarang iklan lari ke media sosial dan platform digital,” paparnya.
Ia menyebut, banyak kreator konten yang mengejar sensasi agar menarik perhatian pengiklan. “Konten kreator itu sering memilih tema yang sensasional dan emosional. Yang penting menghibur dan menarik sebanyak mungkin penonton. Semakin banyak penonton, semakin banyak iklan, dan semakin besar uangnya,” kata Komaruddin.
Lebih lanjut, Ketua Dewan Pers menyampaikan, Menjawab pertanyaan tentang kecerdasan buatan (AI) dan masa depan jurnalisme, Komaruddin menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kecerdasan manusia.
“Kapan AI menjadi asisten yang cerdas dan kapan AI menggantikan Anda? Kalau kita sepenuhnya tergantung kepada AI, maka kecerdasan kita akan semakin menurun,” ujarnya.
Ia menekankan, wartawan tetap harus melakukan riset dan berpikir kritis dalam menyusun berita. “Wartawan harus melakukan riset dan harus cerdas dalam membuat berita. Jangan hanya menyalin dari AI atau dari media lain tanpa verifikasi,” tegasnya.(*)
Tidak ada komentar