
Oleh : Ahmad Manarul Hidayatullah, S.H.
Opini – Dalam setiap rezim, selalu ada satu profesi yang membuat kekuasaan tidak pernah benar-benar tenang: jurnalis. Bukan karena mereka paling berisik, tetapi karena mereka bekerja dengan fakta. Sejarah menunjukkan, sejak dulu hingga kini, kekuasaan selalu punya masalah yang sama takut pada tulisan yang jujur. Di titik inilah kisah Karl Marx sebagai jurnalis menjadi relevan dan tak pernah usang.
Karl Marx tidak diusir karena mengangkat senjata. Ia diusir karena menulis. Sebagai jurnalis Rheinische Zeitung, Marx mengkritik kemiskinan struktural, sensor pers, dan kebijakan negara Prusia yang menindas rakyat. Negara merespons dengan cara klasik: membungkam medianya dan mengasingkan penulisnya. Sejak saat itu, Marx hidup berpindah-pindah sebagai pengasing politik.
Hampir dua abad berlalu, namun relasi antara kekuasaan dan jurnalisme kritis nyaris tak berubah. Hingga hari ini, jurnalis yang menulis terlalu jujur masih kerap dianggap pengganggu stabilitas, bukan penjaga demokrasi.
Pembungkaman kini jarang dilakukan secara terang-terangan. Tidak ada larangan terbit seperti di masa lalu. Metodenya lebih halus dan legal: pemanggilan aparat, kriminalisasi, tekanan ekonomi, hingga intimidasi digital. Jurnalis yang mengungkap dugaan korupsi, konflik agraria, atau mafia sumber daya alam justru sering diposisikan sebagai pihak bermasalah. Sementara aktor yang diberitakan tetap aman di balik kekuasaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebebasan pers sering berhenti di atas kertas. Dalam praktiknya, hukum kerap digunakan sebagai alat peringatan: kritik boleh, tetapi jangan menyentuh kepentingan yang terlalu tinggi. Akibatnya, banyak media memilih aman. Kritik dilunakkan, fakta dipangkas, dan isu strategis disamarkan dengan bahasa netral yang menipu.
Tekanan juga datang dari dalam industri media sendiri. Kepemilikan media oleh elite politik dan pengusaha besar menjadikan independensi pers rentan. Ketika pemilik media adalah bagian dari kekuasaan, jurnalisme berubah dari pengawas menjadi penyesuaian. Yang dijaga bukan kepentingan publik, melainkan kepentingan relasi.
Karl Marx pernah menegaskan bahwa ide-ide yang dominan dalam masyarakat adalah ide-ide kelas yang berkuasa. Dalam jurnalisme modern, pernyataan itu terasa relevan. Berita yang dominan bukan selalu yang paling benar, melainkan yang paling aman bagi pemilik modal dan kekuasaan.
Marx membayar mahal keberaniannya. Ia hidup miskin, terasing, dan tak sempat menikmati pengaruh pemikirannya. Namun sejarah memberi pelajaran penting: kekuasaan yang takut pada tulisan akhirnya tumbang oleh tulisan itu sendiri.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah jurnalis akan ditekan karena tekanan adalah konsekuensi dari kejujuran. Persoalan yang jauh lebih berbahaya adalah ketika jurnalis mulai berdamai dengan ketakutan. Ketika pers memilih aman, kekuasaan menjadi liar. Ketika pers berhenti mengganggu, publik kehilangan pelindung terakhirnya.
Karl Marx telah lama mati, tetapi pesannya tetap hidup “menulis adalah tindakan politik”. Dan selama jurnalis masih menulis untuk kepentingan publik, bukan kepentingan penguasa, kecurigaan akan selalu datang. Sebab bagi kekuasaan, jurnalis yang jujur memang selalu dianggap musuh.

Tidak ada komentar