
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur:
Peran Perubahan Iklim dan Pengendalian Penyakit Berbasis Lingkungan
Abstrak
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit berbasis lingkungan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu, curah hujan yang tidak menentu, dan kelembapan udara, berkontribusi terhadap peningkatan kepadatan vektor Aedes aegypti serta risiko penularan dengue. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan perubahan iklim dengan penyebaran DBD serta strategi pengendalian penyakit berbasis lingkungan di Kecamatan Sukadana. Metode yang digunakan adalah studi pustaka terhadap jurnal nasional dan internasional lima tahun terakhir serta laporan kesehatan resmi. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor iklim dan kondisi lingkungan permukiman berperan signifikan dalam peningkatan kasus DBD, terutama pada musim penghujan. Pengendalian penyakit berbasis lingkungan melalui pemberantasan sarang nyamuk, perbaikan sanitasi, dan partisipasi masyarakat merupakan strategi utama yang efektif dan berkelanjutan.
Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, perubahan iklim, penyakit berbasis lingkungan, Lampung Timur
Pendahuluan
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini endemis di wilayah tropis dan subtropis serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), termasuk di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Timur tercatat sebagai salah satu wilayah endemis dengan peningkatan kasus yang bersifat musiman.
Perubahan iklim global memengaruhi determinan lingkungan penyakit, seperti suhu udara, curah hujan, dan kelembapan, yang berimplikasi langsung pada siklus hidup dan kepadatan vektor dengue. Curah hujan yang tinggi meningkatkan jumlah tempat perindukan nyamuk, sedangkan suhu yang lebih hangat mempercepat replikasi virus dalam tubuh nyamuk. Selain faktor iklim, perilaku masyarakat dan kualitas sanitasi lingkungan turut menentukan risiko penularan DBD.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, dengan menelaah jurnal ilmiah nasional dan internasional periode 2020–2025, laporan World Health Organization (WHO), serta data Profil Kesehatan Indonesia dan publikasi Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk mengkaji hubungan perubahan iklim, faktor lingkungan, dan pengendalian DBD berbasis lingkungan.
Hasil dan Pembahasan
Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Penyebaran DBD
Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan berkorelasi positif dengan peningkatan risiko penularan dengue (Messina et al., 2023; Rocklöv & Dubrow, 2024). Suhu yang lebih tinggi mempercepat siklus hidup nyamuk dan memperpendek masa inkubasi virus dengue di dalam vektor (Brady et al., 2023).
Faktor Lingkungan dan Kondisi Lokal
Kondisi lingkungan permukiman, seperti keberadaan tempat penampungan air terbuka, pengelolaan sampah yang kurang optimal, serta kepadatan penduduk, berkontribusi terhadap tingginya kepadatan vektor. Di Kabupaten Lampung Timur, termasuk Kecamatan Sukadana, peningkatan kasus DBD umumnya terjadi pada periode November–Maret yang bertepatan dengan musim penghujan.
Pengendalian Penyakit Berbasis Lingkungan
Literatur internasional dan laporan WHO menegaskan bahwa pengendalian DBD paling efektif dilakukan melalui pendekatan berbasis lingkungan dan partisipasi masyarakat (WHO, 2023; WHO, 2024). Strategi utama meliputi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, perbaikan sanitasi, surveilans vektor, dan edukasi kesehatan. Inovasi seperti penggunaan nyamuk ber-Wolbachia menunjukkan potensi, namun memerlukan adaptasi konteks lokal.
Kesimpulan
Kejadian DBD di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, dipengaruhi oleh interaksi faktor perubahan iklim dan kondisi lingkungan permukiman. Peningkatan suhu dan curah hujan memperbesar risiko penularan melalui peningkatan kepadatan vektor. Pengendalian penyakit berbasis lingkungan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat merupakan strategi kunci dalam menekan kejadian DBD secara berkelanjutan.
Saran
Diperlukan penguatan program pengendalian DBD yang terintegrasi antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat, khususnya melalui peningkatan edukasi PSN, perbaikan sanitasi lingkungan, serta sistem surveilans berbasis iklim.
Daftar Pustaka
Astuti, E. P., & Ipa, M. (2023). Dampak perubahan iklim terhadap kejadian demam berdarah dengue di Indonesia. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 7(2), 65–74.
Brady, O. J., Gething, P. W., Bhatt, S., Messina, J. P., Brownstein, J. S., Hoen, A. G., et al. (2023). Refining the global spatial limits of dengue virus transmission by evidence-based consensus. PLoS Neglected Tropical Diseases, 17(1), e0011042. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0011042
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI.
Messina, J. P., Brady, O. J., Kraemer, M. U. G., Golding, N., Wint, G. R. W., & Hay, S. I. (2023). Climate change and the shifting global distribution of dengue risk. Nature Reviews Microbiology, 21(6), 370–383. https://doi.org/10.1038/s41579-023-00866-9
Rocklöv, J., & Dubrow, R. (2024). Climate change: an enduring challenge for vector-borne disease prevention. The Lancet Planetary Health, 8(2), e120–e129. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(23)00304-4
Sukowati, S., & Shinta. (2022). Pengendalian vektor demam berdarah dengue berbasis lingkungan dan partisipasi masyarakat. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 14(3), 155–165.
World Health Organization. (2023). Global vector control response 2017–2030: progress report 2023. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Dengue and severe dengue – fact sheet update. Geneva: World Health Organization.
Bye : Fitroh Cahyaningtyas –
Sanitarian Puskesmas Sukadana
Tidak ada komentar