
Perubahan Iklim Picu Lonjakan Leptospirosis, Ancaman Kesehatan di Balik Banjir.
Penulis :
Rachma Pratiwi
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Embaranpos.id – Perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan curah hujan, hujan ekstrem, dan kejadian banjir semakin berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko leptospirosis, penyakit menular berbasis lingkungan yang sering muncul setelah banjir karena disebabkan genangan air.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan ditularkan melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan terinfeksi, terutama tikus. Kondisi lingkungan yang basah dan lembap akibat hujan lebat dan banjir menjadi media ideal bagi bakteri tersebut untuk bertahan hidup dan menyebar.

Di Indonesia, perubahan iklim memperburuk faktor risiko lingkungan yang sudah ada, seperti sistem drainase yang tidak memadai, sanitasi lingkungan yang kurang optimal, pengelolaan sampah yang belum baik, serta tingginya populasi tikus di kawasan permukiman. Kombinasi faktor tersebut meningkatkan paparan masyarakat terhadap lingkungan berisiko, terutama di wilayah rawan banjir.
Selain faktor lingkungan, perilaku masyarakat juga berperan penting dalam penularan leptospirosis. Aktivitas yang melibatkan kontak langsung dengan air tergenang tanpa penggunaan alat pelindung diri, serta rendahnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, meningkatkan risiko bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka kecil pada kulit atau selaput lendir.
Menghadapi kondisi tersebut, pengendalian leptospirosis berbasis lingkungan menjadi strategi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Upaya pengendalian meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, pengelolaan dan pemeliharaan sistem drainase, pengendalian populasi tikus sebagai reservoir penyakit, serta pengelolaan sampah yang terintegrasi. Lingkungan permukiman yang bersih dan tertata berperan penting dalam memutus rantai penularan leptospirosis.
Selain itu, edukasi dan pemberdayaan masyarakat perlu terus ditingkatkan, khususnya di daerah rawan banjir. Masyarakat diimbau untuk menghindari kontak langsung dengan air tergenang, menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di lingkungan berisiko, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten.
Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, pengendalian leptospirosis juga perlu diintegrasikan ke dalam strategi adaptasi kesehatan masyarakat. Pemanfaatan data iklim, data lingkungan, dan data kesehatan melalui sistem informasi dapat mendukung pemantauan wilayah berisiko serta membantu perencanaan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Dengan pendekatan berbasis lingkungan yang didukung oleh kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, risiko leptospirosis diharapkan dapat ditekan. Upaya preventif ini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Tidak ada komentar