
Rutan Sukadana, Pelayanan Humanis, Dapur Warga Binaan hingga Komitmen Zero Halinar
LAMPUNG TIMUR — EMBARANPOS.ID — Matahari mulai meninggi, Senin (12/10/2026). Di tengah udara yang kian menyengat, sejumlah wartawan memasuki halaman Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Kedatangan mereka bukan sekadar untuk melihat dari dekat aktivitas di balik tembok rutan, melainkan menelusuri bagaimana pelayanan, pembinaan, dan pengamanan dijalankan di dalamnya.
Kamera mulai diarahkan ke sejumlah sudut. Para jurnalis mengamati aktivitas di lingkungan rutan, mulai dari pelayanan kunjungan keluarga, dapur tempat makanan warga binaan disiapkan, ruang pemeriksaan kesehatan, hingga tempat ibadah.
Di tengah perjalanan, seorang wartawan melontarkan celetukan yang mengundang perhatian rekan-rekannya.
“Ini momen pas kita mengetahui suasana warga binaan. Siapa tahu kondisi Rutan Kelas IIB Sukadana sama dengan yang sedang viral,” ujarnya.
Ucapan itu menjadi pemantik rasa ingin tahu. Para wartawan kemudian menuju ruang pelayanan kunjungan, tempat keluarga warga binaan mengurus keperluan untuk bertemu orang-orang terdekat mereka.
Pelayanan Kunjungan yang Kian Mudah
Di ruang pelayanan, suasana terlihat diwarnai aktivitas keluarga yang datang untuk membesuk. Bagi mereka, kesempatan bertemu anggota keluarga yang sedang menjalani masa penahanan atau pidana memiliki arti tersendiri.
Salah seorang pengunjung mengaku proses kunjungan kini terasa lebih mudah karena pendaftaran dapat dilakukan secara daring.
“Sekarang kalau mau membesuk keluarga yang sedang dibina sangat mudah, Mas. Kami sudah mendaftar secara online. Di sini tinggal mengambil nomor antrean,” tuturnya.
Pengunjung lainnya juga menyampaikan pengalaman serupa. Menurutnya, pelayanan yang diterima terasa lebih ramah.
“Sekarang untuk menengok keluarga yang sedang dibina lebih mudah, Mas. Pelayanannya juga lebih ramah, pegawainya baik-baik,” katanya.
Kesaksian para pengunjung itu menjadi gambaran bahwa pelayanan di dalam rutan bukan hanya menyangkut prosedur administratif, tetapi juga bagaimana keluarga diperlakukan ketika datang menjenguk orang terdekat mereka.
Meski demikian, kemudahan pelayanan tetap berjalan beriringan dengan prosedur pengamanan yang wajib dipatuhi setiap pengunjung.
Pemeriksaan Berlaku untuk Semua
Dari meja pelayanan, para wartawan mencoba menggali informasi mengenai mekanisme pemeriksaan terhadap pengunjung.
Petugas menjelaskan bahwa setiap keluarga yang datang wajib menjalani pemeriksaan badan dan barang bawaan. Prosedur tersebut diterapkan tanpa membedakan siapa pun yang hendak masuk ke lingkungan rutan.
Penjelasan itu kemudian dibuktikan langsung ketika rombongan jurnalis bergerak menuju pintu masuk area dalam. Sebelum diperbolehkan melanjutkan peliputan, mereka terlebih dahulu menjalani pemeriksaan sebagaimana pengunjung lainnya.
“Semua pengunjung diperiksa, Pak, guna mengantisipasi adanya barang terlarang yang masuk ke dalam rutan sesuai dengan SOP kami,” ujar petugas penjagaan.
Kepala Rutan Kelas IIB Sukadana, Mohammad Jawad Cirry, menegaskan bahwa pemeriksaan identitas, badan, dan barang bawaan merupakan bagian dari sistem pengamanan yang diterapkan di lingkungan rutan.
“Semua pengunjung harus menunjukkan identitasnya, kemudian diperiksa badan dan barang. Setelah itu diberikan stempel atau tanda. Pengunjung baru dipersilakan masuk setelah melewati semua prosedur tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan pengamanan juga dilakukan melalui penambahan petugas untuk membantu proses pemeriksaan, terutama ketika kebutuhan pelayanan meningkat.
Bagi pihak rutan, pelayanan yang baik tidak berarti mengabaikan pengawasan. Keduanya harus berjalan beriringan demi menjaga keamanan dan ketertiban.
Dari Dapur, Pembinaan Terlihat dalam Aktivitas Sederhana
Perjalanan berlanjut menuju dapur rutan. Di tempat ini, suasana berbeda terasa. Beberapa orang tampak sibuk menyiapkan makanan untuk warga binaan.
Di antara aktivitas memasak, peralatan dapur bergerak mengikuti ritme pekerjaan. Seorang petugas dapur menjelaskan bahwa menu makanan warga binaan disusun secara bergantian setiap sepuluh hari sesuai daftar menu yang telah ditetapkan.
Ia juga menerangkan bahwa proses memasak melibatkan warga binaan yang memiliki kemampuan di bidang kuliner.
“Menu di sini berganti setiap sepuluh hari sesuai dengan daftar menu. Yang memasak adalah warga binaan yang mempunyai kelebihan dalam hal memasak,” ujarnya.
Aktivitas di dapur memperlihatkan sisi lain kehidupan di dalam rutan. Di balik keterbatasan ruang gerak, warga binaan tetap memiliki kesempatan menjalankan kegiatan produktif sesuai kemampuan dan penugasan yang diberikan.
Keterampilan sederhana seperti memasak dapat menjadi bagian dari pengalaman yang berguna ketika mereka kelak kembali ke tengah masyarakat.
Pelayanan Kesehatan Tetap Diperhatikan
Dari dapur, rombongan bergerak menuju ruang pemeriksaan kesehatan. Di ruangan tersebut, seorang warga binaan terlihat sedang menjalani pemeriksaan.
Petugas yang mendampingi peliputan menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan diberikan melalui tenaga yang tersedia di rutan, dengan dukungan dari puskesmas setempat.
“Untuk tenaga medis, selain dibantu dari puskesmas, kami juga memiliki pegawai di bidang kesehatan,” jelasnya.
Keberadaan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan. Pemeriksaan kesehatan diperlukan agar keluhan maupun kondisi yang membutuhkan penanganan dapat diketahui dan ditindaklanjuti.
Sebab, menjalani proses hukum atau masa pidana tidak menghilangkan hak seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ruang Ibadah Menjadi Tempat Penguatan Rohani
Suasana berbeda terasa ketika rombongan tiba di tempat ibadah. Sejumlah warga binaan terlihat mengikuti kegiatan siraman rohani dan mendengarkan ceramah.
Di tempat itu, pembinaan tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menyentuh sisi spiritual.
Petugas menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan rohani melibatkan dukungan dari jajaran Kementerian Agama di Lampung Timur serta tokoh agama di sekitar lingkungan rutan.
“Kegiatan siraman rohani kami dibantu oleh pegawai Departemen Agama Lampung Timur. Ada juga tokoh agama sekitar,” ujarnya.
Rutan Sukadana juga menyediakan tempat ibadah bagi warga binaan nonmuslim. Fasilitas tersebut menjadi bentuk upaya memberikan ruang bagi warga binaan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Di tengah proses menjalani hukuman, pembinaan spiritual diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kesadaran diri, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat.
Tetap Terhubung dengan Keluarga
Selain pelayanan kunjungan secara langsung, rutan juga menyediakan fasilitas telepon yang dapat dimanfaatkan warga binaan untuk menghubungi keluarga.
Menurut petugas, penyediaan fasilitas tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
Fasilitas komunikasi menjadi salah satu sarana untuk menjaga hubungan warga binaan dengan keluarga. Dukungan keluarga kerap menjadi bagian penting dalam proses pembinaan dan persiapan untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Namun, pemanfaatannya tetap harus mengikuti ketentuan serta mekanisme yang berlaku di lingkungan rutan.
Razia Gabungan dan Komitmen Zero Halinar
Di balik aktivitas pelayanan dan pembinaan, aspek pengamanan tetap menjadi perhatian utama pengelola Rutan Sukadana.
Mohammad Jawad Cirry mengungkapkan bahwa pihaknya bersama aparat penegak hukum di Lampung Timur, termasuk TNI, Polri, Brimob, dan Badan Narkotika Nasional (BNN), telah melaksanakan razia gabungan.
Dalam kegiatan tersebut, petugas menemukan benda-benda berupa kaleng dan kaca yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Sementara itu, menurut keterangan kepala rutan, tidak ditemukan narkoba maupun telepon genggam dalam razia tersebut.
Sebanyak 81 warga binaan juga menjalani tes urine. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruhnya negatif narkoba.
“Komitmen Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya jajaran Pemasyarakatan, adalah zero halinar. Ini akan terus berkelanjutan dan berkesinambungan dengan tetap berkoordinasi bersama aparat penegak hukum lainnya,” tegasnya.
Zero halinar merupakan komitmen untuk mewujudkan lingkungan pemasyarakatan yang bebas dari handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba.
Sebagai bagian dari penegakan tata tertib, pihak rutan juga telah memindahkan tujuh warga binaan ke Nusakambangan sekitar dua minggu sebelum keterangan tersebut disampaikan. Menurut kepala rutan, pemindahan itu berkaitan dengan pelanggaran aturan, termasuk pelanggaran terkait narkoba dan penggunaan telepon genggam.
Kebijakan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan dari sejumlah anggota keluarga. Mereka datang ke rutan untuk meminta penjelasan mengenai alasan pemindahan.
“Setelah kami jelaskan, mereka menerima bahwa anggota keluarganya dipindahkan karena melanggar aturan yang ada di dalam rutan,” ungkapnya.
Di Balik Tembok Rutan, Pelayanan dan Pengawasan Berjalan Beriringan
Penelusuran singkat di Rutan Kelas IIB Sukadana pada Senin itu memperlihatkan sejumlah sisi kehidupan warga binaan: keluarga yang datang membawa harapan untuk bertemu, petugas yang melayani pengunjung, aktivitas memasak di dapur, pemeriksaan kesehatan, hingga pembinaan keagamaan.
Pada saat yang sama, pemeriksaan pengunjung, razia gabungan, serta penegakan tata tertib menunjukkan bahwa aspek keamanan tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemasyarakatan.
Kepala Rutan Sukadana, Mohammad Jawad Cirry, bersama jajaran petugas memiliki tanggung jawab untuk memastikan pelayanan dan pembinaan berjalan sesuai ketentuan, tanpa mengesampingkan pengamanan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah rutan tidak hanya diukur dari ketatnya penjagaan, tetapi juga dari kualitas pelayanan, pemenuhan hak warga binaan, serta upaya pembinaan yang membantu mereka mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Di balik tembok Rutan Sukadana, pelayanan dan pengawasan menjadi dua hal yang harus terus berjalan beriringan.
Laporan : Robenson
Tidak ada komentar