
LAMPUNG TIMUR — EMBARANPOS.ID — Ribuan hingga puluhan ribu jemaah dari berbagai daerah menghadiri puncak Haul ke-887 Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sekaligus Imtihan Santri ke-60 yang digelar di Pondok Pesantren Darussalamah, Desa Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Selasa (22/9/2026).
Pihak pondok pesantren memperkirakan jumlah jemaah yang hadir mencapai sekitar 200 ribu orang. Kepadatan jemaah terlihat di kawasan pondok pesantren selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Pelaksanaan haul tahun ini juga menjadi momentum khusus karena untuk pertama kalinya kegiatan dipusatkan di gedung pendidikan formal yang baru selesai dibangun.
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalamah, KH Agus Ahmad Fatoni, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh jemaah atas kehadiran dan dukungan yang luar biasa hari ini. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyediaan tempat maupun pelayanan selama acara berlangsung masih terdapat kekurangan,” ujar KH Agus Ahmad Fatoni dalam sambutannya.
Menurutnya, penggunaan gedung baru tersebut diharapkan membawa manfaat bagi kegiatan pendidikan dan pembinaan para santri serta masyarakat.
“Semoga tempat ini menjadi lokasi yang barokah dan bermanfaat bagi umat,” katanya.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan selawat yang dipimpin Ning Rubaiyah, putri KH Ahmad Sodiq. Suasana semakin khidmat ketika doa iftitah dipimpin KH Mohammad Toha, Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Dalam kesempatan tersebut, Kyai Syamsuddin Thohir, salah seorang santri senior, turut menyampaikan kilas balik mengenai perjuangan pendiri Pondok Pesantren Darussalamah, KH Ahmad Sodiq.
Ia menuturkan, KH Ahmad Sodiq mulai merintis dakwah dan membimbing anak-anak di lingkungan desa sejak 1965. Kemudian, pada 1984, KH Ahmad Sodiq mulai mengemban amanah dalam membaiat jemaah tarekat.
Kyai Syamsuddin juga mengingat kembali pesan KH Ahmad Sodiq mengenai pentingnya menjaga kerukunan antarsesama.
“Ngger, sing rukun ambek dulure dewe,” yang berarti “Nak, rukunlah dengan saudaramu sendiri,” merupakan salah satu pesan yang menurutnya terus relevan untuk diamalkan.
Menurut Kyai Syamsuddin, pesan tersebut mengandung ajaran untuk menjaga persaudaraan, menghindari pertengkaran, serta menyikapi perbedaan dengan saling menghormati.
“Jika ada yang salah, diingatkan dengan cara yang baik. Jika berbeda guru atau pandangan, tetap harus saling menghormati. Jika terjadi kesalahan, harus saling memaafkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, KH Ahmad Sodiq tidak menginginkan para santri saling bermusuhan atau enggan membantu satu sama lain.
Puncak haul tersebut tidak hanya menjadi momentum penghormatan terhadap Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi bagi jemaah, santri, alumni, dan masyarakat yang hadir dari berbagai daerah.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana religius dan ditutup dengan doa bersama. **(*)
Tidak ada komentar